11
May
10

FanFic: Tell Me Once More

Title : Tell Me Once More

Author : shinbitokiicecream (shinbi)

Cast : Han Shinbi, Kim Hyung Jun (SS501), Kim Jonghyun (SHINee), , Park Gyuri(Kara), Lee Jaewon

Rating: PG 15

Length : oneshot

Genre : Romance

epep kali ini ada bintang tamunya yaitu jeha dari shinee… ceileee..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Shinbi, bolehkah aku meminjam catatan Biologimu? Kelasku besok ulangan. Teman-temanku pasti tidak ada yang mau meminjamkan catatannya karena akan mereka pakai belajar.” Kata Jaewon yang bertemu denganku saat istirahat tiba.

“Ne.. Ayo ke kelasku!” ajakku sambil menggandeng Jaewon berjalan ke kelasku. Sesampainya di kelasku, aku segera membuka tasku dan mengaduk2 isinya untuk mencari catatan biologiku. Di tengah mencari, aku menemukan beberapa lembar kertas yang terlihat ganjil di antara buku-bukuku yang tebal. Aku tidak begitu menghiraukannya karena akhirnya aku berhasil menemukan catatan biologiku. Aku segera memberikan catatan itu pada Jaewon.

“Gumawo Shinbi.”

“Chonmanhae..” balasku. Dan setelah Jaewon pergi meninggalkan kelasku, pikiranku tertuju pada beberapa lembar kertas tebal yang ada di tasku yang seingatku tidak pernah memasukkannya. Aku segera membuka tasku kembali dan mengeluarkan beberapa lembar kertas itu.

Badanku langsung lemas setelah melihat kertas-kertas tebal itu ternyata foto Jonghyun, pacarku sedang bersama perempuan lain. Di foto itu, Jonghyun menggandeng tangan dan memeluk perempuan itu. Apa ini maksudnya? Siapa yang telah memasukkan foto-foto ini ke tasku? Jonghyun.. benarkah selama ini ia berbohong padaku?

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

http://uknowkresnata.files.wordpress.com/2009/08/jonghyun1.jpg

“Shinbi!!” Jonghyun melambaikan tangannya padaku. Ia tidak pernah absen untuk mengantar dan menjemputku di sekolah. Aku berjalan lemas ke arahnya. Sampai akhirnya aku sampai di depannya.

“Kamu kenapa?” ia memandangi wajahku. Aku terus membuang muka. “Shinbi…” ia memegang tanganku dan aku langsung melepaskannya.

Aku mengeluarkan foto-foto itu dari sakuku dan menaruh foto-foto itu di dadanya. “Mwoya ige?!” tanyaku yang mulai berkaca-kaca.

Jonghyun terlihat shock melihat foto-foto itu. “Bi…tapi ini.. Dengarkan aku dulu…”

“Geuman… Jonghyun, sampai di sini saja. Annyeong…” aku menunduk dan mulai meninggalkannya.

“Shinbi…” ia menahanku dan menarik tanganku.

Aku terus menunduk. “Jebal…”

Ia melihat air mataku jatuh dan akhirnya dengan berat hati ia melepaskanku, membiarkanku meninggalkannya.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Beberapa hari ini aku merasa hidupku terasa kosong dan hampa. Boneka-boneka kelinci yang terpajang di kamarku,  hasil-hasil self cam dan video, tempat-tempat yang biasa ku lewati bersamanya, selalu mengingatkanku pada Jonghyun.

Aku terus merenung dan menyadari memang aku yang salah. Aku begitu saja percaya pada foto-foto itu, menjudge Jonghyun yang tidak-tidak, dan tidak membiarkannya memberikan penjelasan. Aku tidak ingin terus seperti ini. Aku harus bisa memperbaiki semuanya…

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Saat aku membereskan alat-alat praktikum di ruang persiapan biologi, aku melihat seekor bunglon di dalam sebuah box kaca. Bunglon itu bermata besar, seperti halnya orang marah yang sedang melotot. Aku menggeser kursi ke dekat box bunglon tersebut dan mengamati matanya yang besar itu. Sampai akhirnya aku mendengar suara pintu berdecit. Aku kira akan ada orang masuk, tapi saat aku menoleh tidak ada seorang pun di sana.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sepulang sekolah, aku melewati sebuah belokan kecil. Setelah melewati belokan kecil, ada sebuah pohon besar. Pohon itu mengingatkanku pada Jonghyun. Di bawah pohon itu, ia memberikanku kehangatan dengan pelukannya saat salju turun. Dengan cepat aku berlari dan mendekap pohon itu. Membayangkan Jonghyun yang sedang memelukku dengan hangat dan melindungiku dari dinginnya udara musim dingin.

“Hei,, sedang apa kau di situ?”

Aku menoleh. Ternyata seseorang sedang mengamatiku. Aku segera melepas dekapanku dari pohon itu.

“Ah..aku hanya kecapekan tadi habis lari-lari. Hufth..lari lagi ah..” aku berpura-pura berlari kecil dan segera meninggalkan tempat itu.

“Hahaha dasar anak aneh.” Orang itu tertawa sambil mengamatiku yang berlari meninggalkannya.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Keesokan harinya, aku menuju lapangan sepak bola dekat sekolah. Lapangan yang biasa aku hindari karena terdapat anjing galak di sana. Dan biasanya Jonghyun yang melindungiku dari anjing galak itu dan menemaniku saat pulang sekolah. Melihat kedatanganku, anjing tersebut langsung menggonggong dengan buasnya. Walaupun anjing itu diikat oleh rantai yang kuat, tapi aku benar-benar takut pada gonggongan dan tatapan anjing itu.  Ku hembuskan napas panjang dan kudekati anjing itu perlahan-lahan. Sampai akhirnya aku berdiri beberapa meter dari anjing itu. Anjing itu tak henti-hentinya menggonggong. Aku terus diam di tempat dan memandangi anjing itu. Dan akhirnya anjing itu berhenti menggonggong dan memperhatikanku dengan tenang.  Aku sedikit lega karena akhirnya aku berani menghadapi anjing itu, meskipun awalnya perasaan takut menjalar ke seluruh tubuhku.

“Selamat kau bisa menaklukan anjing itu.” Tiba-tiba aku mendengar seseorang berbicara padaku. Aku segera menoleh,  orang yang sama. Ia duduk di atas mobil usang dan mengamatiku.

“Kau lagi. Kau mengikutiku ya?”

“Tidak. Aku hanya kebetulan lewat sini. Tiba-tiba melihat aksimu yang sangat bodoh itu. Hahahaha gadis aneh.” Jawabnya sambil tertawa.

Aku tidak menghiraukannya dan beranjak pulang begitu saja.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Keesokan harinya, aku mendatangi taman yang dulu biasa ku kunjungi dengan Jonghyun. Biasanya kalau aku datang terlambat dan ternyata ia sudah menungguku terlalu lama di tempat itu, aku akan segera berlari dan memeluknya. Dengan begitu, ia tidak akan memarahiku karena membuatnya menunggu lama. Kali ini aku juga melakukan hal yang sama. Aku berlari dan langsung memeluk..bukan Jonghyun yang ada di hadapanku. Tapi pohon yang menemaninya saat aku terlambat datang. Aku membayangkan seolah-olah itu Jonghyun yang akan memaafkanku nantinya.

“Memang enak memeluk pohon seperti itu?” lagi-lagi suara yang sama.

“Kau lagi?! Kenapa kau di sini?! Kau benar-benar mengikutiku?!”

“Hahaha, aku ingin tahu hal gila apa lagi yang akan kau lakukan hari ini. Ternyata… Hahahahaha…” ia tertawa sambil menunjuk-nunjuk pohon yang kupeluk tadi.

“Bukan urusanmu.” Aku terlanjur sebal dengan orang itu. Aku tidak menghiraukannya yang terus menertawaiku dan meninggalkannya begitu saja.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

http://bluemoviereviews.files.wordpress.com/2009/02/two-lovers-poster.jpg

Saat pulang sekolah, aku melihat sebuah poster film terpampang di jalanan. Poster itu mengingatkanku saat pertama kali Jonghyun menciumku. Aku merasakan angin yang bergerak lembut menyentuh wajahku. Ku pejamkan mata dan berjinjit.

“Hahahahahaha…apa lagi yang kau lakukan?” sampai akhirnya tawa seseorang menyadarkanku.

“Ya!! Berhenti mengikutiku!!” aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan agar orang itu berhenti menggangguku. Sampai akhirnya aku berteriak padanya dan membuatnya berhenti tertawa. “Urusi urusanmu sendiri!” aku mulai berkaca-kaca dan berlari pulang ke rumah.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Akhirnya setelah mengumpulkan semua keberanianku, aku datang ke pantai tempat dimana aku dan Jonghyun biasa menikmati sunset. Ternyata memang Jonghyun ada di sana bersandar di sebuah pagar kayu sambil mengamati langit.

Ternyata ia menyadari keberadaanku dan berjalan ke arahku. Aku juga memberanikan diri berjalan ke arahnya seperti halnya aku memberanikan diri mendekati anjing yang waktu itu. Sampai akhirnya kami hanya berjarak beberapa meter saja. Aku mendongak memberanikan diri menatap matanya yang sudah siap memarahiku dan berkata maaf padanya. Ternyata ia tersenyum padaku, aku segera berlari memeluknya seperti aku memeluk pohon pada waktu itu. Dan akhirnya ia memaafkanku dan menciumku dengan lembut seperti halnya saat aku berjinjit di tengah tiupan angin itu.

Setelah membayangkan semua latihanku selama ini akan berhasil, aku semakin yakin untuk memperbaiki hubunganku dengan Jonghyun. Aku membalikkan badanku ke arah Jonghyun yang bersandar di pagar kayu. Jonghyun menoleh ke arahku dan melepaskan pegangannya dari pagar kayu. Ia menatapku dengan pandangan hampa. Begitu juga aku yang menatapnya dengan pandangan hampa dan hati tercabik-cabik melihat seorang perempuan yang ada di foto waktu itu berdiri bersamanya. Pudar sudah semua angan-anganku untuk kembali padanya. Sia-sia sudah semua latihanku untuk menghadapinya selama ini. Selamat Kim Jonghyun. Kau sudah berhasil membuatku mati rasa.

Aku melangkah berjalan melewati Jonghyun yang sedang bersama perempuan itu seperti halnya tidak pernah terjadi apa-apa antara aku dan Jonghyun.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Bagaimana? Berhasil tidak?” tiba-tiba orang itu duduk di pinggir pantai bersamaku. Aku tidak menghiraukan dan terus mengayun-ayunkan kakiku.

“Hahahaha… Sudah ku bilang, hal yang kau lakukan itu bodoh.”

“Iya aku memang bodoh. Melakukan hal sia-sia seperti itu. Puas?!” aku mulai menangis di hadapannya. Tiba-tiba ia meraih tubuhku dan memelukku begitu saja. Aku berusaha melepaskan diri dari dekapannya, tapi ia mendekapku dengan kuat. Akhirnya aku hanya bisa menangis di pelukannya.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Kau..kenapa kau selalu mengikutiku?”

“Hahahahaha, sudah kubilang. Aku ingin melihat hal bodoh apalagi yang akan kau lakukan.. Hahahahaha..” ia malah tertawa mendengar pertanyaanku.

“Ssst..” aku menempelkan jari terlunjukku di bibirnya. “Berhentilah tertawa. Pasti kau menyembunyikan sesuatu dibalik tawamu itu.”

“Hmpfft… yah.. aku memang selalu menyembunyikan diriku yang kejam dibalik tawaku. Karena dengan tawaku, aku merasa hidupku lebih bahagia.”

“Dirimu yang kejam?”

“Baiklah, aku mau mengakui sesuatu. Terserah kau akan marah atau apa. Sebenarnya aku yang merusak hubunganmu dengan Jonghyun. Aku yang menaruh foto-foto Jonghyun dengan perempuan itu di tasmu. Dan memang aku suka mengikutimu kemana-mana. Aku tidak kalah gila denganmu kan? Hahahaha..”

“Kenapa kau melakukan itu?”

“Hmm..tidak tahu. Mungkin aku jatuh cinta.”

“Jatuh cinta? Tapi kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya…”

“Mungkin tidak. Tapi di mimpiku pernah. Aku sering sekali memimpikanmu. Padahal aku sendiri juga tidak pernah bertemu denganmu. Sampai akhirnya aku melihatmu di lab biologi untuk pertama kalinya. Hahahaha tidak keren ah.”

Aku memandangi wajahnya. Memang sepertinya aku sangat familiar dengan wajah itu. Dan aku tidak tahu perasaan apa yang ada di dalam hatiku. Kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi…

“Aku Kim Hyungjun.” Ia mengulurkan tangannya.

“Em..Han..”

“Han Shinbi, ya kan?” ia langsung memotong pembicaraanku. Dan meraih tanganku yang ragu-ragu menerima tangannya. “Maaf ya aku membuatmu berpisah dengan Jonghyun. Kau mau kembali padanya?”

“Hufth…sepertinya tidak. Ia membiarkanku melewatinya begitu saja. Itu artinya dia benar-benar…”

“Hei, jangan sedih begitu. Kan ada aku di sini.” Katanya sambil tersenyum lebar padaku. Benar-benar orang yang aneh. Dan aku rasa yang ia katakan tentang diriku yang sudah mulai gila juga benar. Aku mulai merasa nyaman berada di dekat orang seaneh dia.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Saat ini Hyungjun yang menggantikan posisi Jonghyun dalam hidupku. Ia yang selalu melindungiku, memberikan keceriaan, dan pastinya kasih sayang yang lebih.

HJ       : yoboseyo?

SB        : Hyungjun, kau bisa ke rumahku sekarang?
HJ       : ada apa?

SB        : aku sedang membuat kue. Aku ingin kau mencicipinya

HJ       : wah..chuayo. Tunggu aku! 5 menit lagi aku datang!

Ia langsung menutup teleponnya dengan semangat. 5 menit kemudian ia benar-benar ada di depan rumahku.

Tok..tok..tok..

Aku segera membukakan pintu.

“Shinbi?” ia melangkah ke belakang.

“Mwoo? Kenapa?”

“Igoyo..” ia menunjuk-nunjuk pisau yang sedang kubawa.

“Oh..hehehe. Tenang saja. Aku tidak akan membunuhmu. Ayo masuk.” Kataku sambil berusaha meraih lengannya.

“Jauhkan itu dulu..”

“Duh iya iya..” akhirnya aku menyembunyikan pisau itu di balik badanku dan membawa Hyungjun masuk ke dapur. Sesampainya di dapur, aku melanjutkan aktivitasku untuk memotong keju. Hyungjun berdiri jauh dari tempatku berdiri.

“Hyungjun? Kamu takut sama pisau?”

“Hehehe..” ia memaksakan tertawanya.

Aku meletakkan pisauku. “Baiklah, aku tidak akan memotong lagi. Tapi kamu harus bantu aku.” Akhirnya ia berani mendekat ke arahku.

“Tapi jangan berurusan sama benda tajam.”

Kim_Hyung_Joon.jpg kim hyung jun image by suju_bigbang_shinee

// <![CDATA[//

“Ne..kamu aduk adonan ini ya?”

“Ne..” ia mengaduk adonan kue tersebut. Beberapa saat kemudian sepertinya ia mulai larut dalam kesibukannya mengaduk adonan. Aku segera memeluknya dari belakang. Ia sedikit kaget dengan perlakuanku.

“Shinbi…” ia tersenyum jahil.

“Sudah, hentikan mengaduknya. Nanti adonannya terlalu matang.”

“Ne…” ia meletakkan adonan tersebut dan memegang tanganku yang sedang memeluknya. “Sekarang aku harus melakukan apa?”

“Chamkanmaneyo.” Aku melepaskan salah satu tanganku yang memeluknya dan mengambil sesuatu di kantong celemekku.

“Kamu harus ini!” aku meletakkan pisau di depannya.

“Shinbi!!” ia berjingkat dan ingin melarikan diri setelah melihat pisau itu di depannya, tapi aku mendekapnya dengan erat.

“Jebal… Kalau kau bisa mengendalikan pisau itu, pisau itu tidak akan melukaimu. Karena itulah kau tidak boleh takut pada pisau.”

“Tapi Bi…”

“Kalau kau takut pada pisau, bagaimana kau bisa melindungiku!”

Ia terdiam mendengar nada bicaraku yang tinggi lalu menghembuskan napas panjang, kemudian mencoba memegang pisau tersebut perlahan.

“Pegangnya gini. Terus yang satunya gini. Gini caranya motong.” Aku membimbing Hyungjun dengan hati-hati. Sampai akhirnya ia bisa mengendalikan pisau dengan benar.

“Hyungjun mian… Aku tadi sempat marah padamu.”

Sekarang gantian Hyungjun yang memelukku dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. “Harusnya aku yang minta maaf. Aku benar-benar terlihat bodoh di depanmu. Aku janji akan berusaha melindungimu. Saranghae…”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sebulan kemudian…

Tok..tok..tok..

“Shinbi..” aku membuka pintu dan Hyungjun berdiri dengan senyumnya yang lebar. “Hari ini amma ulang tahun. Kau mau menemaniku membeli kado untuk ammaku?”

Aku mengangguk mengiyakan ajakannya. Dan akhirnya kami berdua berangkat ke sebuah pameran keramik import. Kata Hyungjun, ammanya suka mengoleksi bermacam-macam keramik.

Hyungjun mulai memilih-milih barang yang cocok untuk ammanya. Sedangkan aku melihat ke bagian barang-barang kecil seperti gelas, mug, dan piring. Pandanganku langsung tertuju pada sebuah mug hitam bergambar kelinci. Mug itu mengingatkanku pada pemberian Jonghyun saat musim salju kemarin. Ia bilang aku bisa menghangatkan tubuhku di musim salju dengan membuat minuman hangat di mug itu sambil mengingatnya.

“Ada yang bisa dibantu?” tanya seorang petugas yang sedang menata dan membersihkan rak yang ada di sebelahku.

“Ah tidak. Kamsahamnida..” kataku sambil menaruh mug itu ke tempatnya. Petugas itu tersenyum padaku lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.

Saat aku melihat-lihat mug-mug yang lain, aku mendengar seseorang berteriak. Dan saat aku menoleh, ternyata petugas tersebut tergelincir dari pijakannya berdiri dan berpegangan pada rak mug yang ada di depanku. Rak tersebut tidak kuat menahan beban tubuh petugas itu dan jatuh secara perlahan. Barang-barang yang ada di rak tersebut berjatuhan dan pecah.

“Shinbi!!” Hyungjun segera mendekapku erat dan menjauhkanku dari robohan rak tersebut. “Gwenchana?” tanyanya padaku.

Aku tersentak melihat darah menetes ke tanganku. Saat aku memandang Hyungjun, darah mengucur deras dari dahinya terkena pecahan kaca.

“Harusnya aku yang bertanya padamu. Kau mau mencelakakan dirimu sendiri?!”

“Aku kan sudah berjanji untuk melindungimu.”

Saat aku berusaha mengeluarkan sapu tangan dari tasku, tiba-tiba dekapan Hyungjun melemah dan ia jatuh begitu saja.

“Hyungjun!!” aku sangat panik karena ia tiba-tiba jatuh pingsan dan darah di wajahnya tidak berhenti mengalir. Aku benar-benar takut Hyungjun kehilangan banyak darah. “Cepat!! Panggil ambulan!!!” aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menangis sambil memeluk Hyungjun.

Akhirnya Hyungjun dilarikan ke UGD. Aku duduk di luar menunggu keluarganya sambil berharap Hyungjun akan baik-baik saja.

“Shinbi..!!” tiba-tiba seseorang memanggilku dari kejauhan.

“Jaewon?” Jaewon datang bersama kedua orang tuanya. Jangan-jangan.. “Kamu dongsaeng Hyungjun?”

“Kau kenal oppaku?”

“Jaewon..mian.. aku tidak bisa menjaganya dengan baik.” Aku tidak bisa menahan tangis lagi.

“Sudahlah, memang sudah saatnya…” kata Jaewon tersenyum tegar.

“Sudah saatnya? Apa maksudmu?”

Jaewon hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku.

“Apa kalian keluarga Kim Hyungjun?” tanya seorang dokter yang keluar dari ruangan Hyungjun.

“Kami orang tuanya.” Kedua orang tua Hyungjun bangkit menghampiri dokter tersebut.

“Maaf, ia tidak tertolong lagi….”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Oppa mengidap penyakit hemofilia. Karena itulah orang tuaku melarangnya dekat-dekat dengan benda tajam. Sekali saja ia terluka, darahnya tidak akan bisa berhenti mengalir dan membuat hidupnya terancam. Karena itulah, aku dan orang tuaku sudah siap jika terjadi kenyataan seperti ini…”

“Shinbi..” Jonghyun membangunkanku dari lamunanku.

“Jonghyun…”

“Aku turut berduka cita…” katanya sambil duduk di sampingku.

“Gumawo”

“Aku tidak menyangka ia jatuh cinta padamu. Kau juga mencintainya?” aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.

“Kita sudah impas. Kau masih tidak mau mendengar penjelasanku?”

“Baiklah aku dengarkan… Maaf ya waktu itu aku belum bisa berpikir jernih.”

“Kau tahu Hyungjun dijodohkan dengan Gyuri? Gyuri begitu mencintai Hyungjun. Tapi ternyata ia malah jatuh cinta padamu yang jelas-jelas sudah menjadi milikku waktu itu. Karena penyakit yang diderita Hyungjun, Gyuri ingin membuatnya bahagia dengan mewujudkan keinginannya agar bisa bersamamu sekali saja dalam hidupnya. Akhirnya Gyuri memohon padaku agar merelakanmu bersama Hyungjun hanya untuk sementara waktu saja. Dan ternyata tindakan yang dilakukan Gyuri sudah tepat.”

“Jadi..kau dan Gyuri…”

“Iya Shinbi. Aku hanya berusaha menolong Gyuri karena ia sahabatku. Tapi ternyata kau benar-benar mencintai Hyungjun…”

“Jonghyun..mian… Aku…”

“Kau mau kembali padaku?”

Aku segera memeluk Jonghyun. “Ne…”

“Jangan pergi dariku lagi… Saranghae Han Shinbi…” kata Jonghyun sambil balas memelukku erat.

THE END


2 Responses to “FanFic: Tell Me Once More”


  1. 20 May 2010 at 2:35 pm

    singkat banget n kurang sedih…
    mian yah… coment nya gak mutu…

  2. 2 minsaeng
    11 December 2010 at 12:13 pm

    Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………… Babyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy………. Aghhhhhh.. bneran hmpir nangis bcanya…….. emg tralu singkat.. tp baby meninggal.. bkin aq srasa mw nangis… huhuhuhu..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

SS501

Kim Hyun Joong, Heo Young Saeng, Kim Kyu Jong, Park Jung Min, Kim Hyung Jun

Disinilah tempatnya Triple S, Mighty Max, & ELF, Kiss Me berkumpul. Aku harap kalian bisa enjoy dan aku juga mohon kesediaan kalian untuk tidak pelit dalam bercomment dan ngevote postingan yg menurut kalian bagus. Thanks

Pasang Banner Affiliate ini Juga yah diblogmu

Buat yang berminat jadi Author di blog ini silahkan mendaftarkan diri [DISINI]

Kalo mau curhat , comment hal2 yg gak penting, request, bashing-bashingan [Disini]

Jangan Lupa Buat Follow Aku Di Twitter

Add Me On Facebook

T-Max

Kim Joon, Shin Min Chul, Park Yun Hwa, Park HanBi, Joo Chanyang

U-Kiss

Alexander, SooHyun, KiBum, KiSeop, Eli, Kevin, DongHo

Top Rate

Categories

Visitor

  • 526,237 Visitor, Thanks For Coming

Tweeted

  • قال رسول الله صلى الله عليه و سلم:ما من امرئ يتوضأ فيحسن وضوءه ،ثم يصلي الصلاة إلا غفر له ما بينه و بين الصلاة الأخرى،حتى يصليها #نشر_سيرته 5 hours ago
  • قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تمنعوا إماء الله مساجد الله -- صحيح البخاري #Hadith #ﷺ 20 hours ago
  • وإذا أذقنا الناس رحمة فرحوا بها وإن تصبهم سيئة بما قدمت أيديهم إذا هم يقنَطون (36) -- سورة الروم #Quran 21 hours ago
  • ما زاد الله عبدا بعفو إلا عزّ #نشر_سيرته #عفو #ظلم twitpic.com/awc9b2 #ﷺ 23 hours ago
  • عن أبي هريرة قال أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاث صيام ثلاثة أيام من كل شهر وركعتي الضحى وأن أوتر قبل أن أنام - صحيح البخاري ﷺ 1 day ago

Max Triple Kiss Worlds


%d bloggers like this: