02
Apr
10

FanFic: NEON NAUI CHEONSA CHAPTER 2-END

Credit: SS501 & Super Junior FanFiction

Author: Asty A.

Casts: imagined
SS501 Kim Kyujong
(member lain sebagai figuran haha)

~~~

Chapter 2

Aku memakai sarung tangan tebalku lalu berjalan ke luar rumah. Aku mempercepat langkahku. Aku tidak ingin terlambat ke sekolah.

Aku kira Kyujong oppa sudah berangkat duluan. Ternyata dia masih ada di halte. Aku duduk di sebelahnya.

“kenapa kau tidak naik duluan? Kau menungguku,ya?” tanyaku.

“eh? Junri-ah.. hem, dari tadi tidak ada bis yang lewat. Hehe. Kau agak terlambat ya?”

“iya, oppa. Kupikir kau sudah naik duluan.”

Bis yang biasa tidak lewat-lewat. Aish! Aku bisa terlambat ke sekolah! Aku berkali-kali melihat jam dengan kesal.

Kenapa bisnya tidak datang-datang?

“Junri-ah, sebenarnya dari tadi banyak bis yang lewat.” Ucap Kyujong oppa memecah keheningan.

“eh? Lalu mengapa kau masih ada disini? Kenapa tidak naik saja?”

“aku.. aku.. aku ingin bertemu denganmu.”

Setelah mengatakan itu dia menunduk. Sepertinya dia malu. Aku hanya diam. Sebenarnya jantungku berdegup 5 kali lipat saat ada di sampingnya, dan menjadi 10 kali lipat saat dia mengatakan itu.

~~~

Sejak saat itu kami menjadi sangat dekat. Setiap hari kami selalu bersama-sama. Setelah aku pulang sekolah dan dia pulang kuliah, kami sering berjalan-jalan berdua ke tempat-tempat menarik, misalnya saja ke kuil-kuil tua, dan lain-lain.

Hari ini kami akan meminum teh hangat. Sekarang sudah musim semi, berarti sudah berbulan-bulan kami dekat.

Dia menarik tanganku masuk ke sebuah kedai teh tradisional. Ternyata teh Jepang, aku tahu karena banyak tulisan-tulisan hiragana dan kanji di dindingnya. Dia memesankanku teh hijau Jepang. Katanya itu adalah yang terenak disini.

Aku meminum teh itu,namun aku segera meletakkannya. Lidahku terbakar. Teh itu panas sekali.

Kyujong oppa tertawa ke arahku, lalu berkata,”bukan begitu cara meminum tehnya..” dia lalu memegang tanganku, dan mengajarkan cara meminum teh.

Setelah meminum teh, kami berjalan-jalan ke sebuah bangunan rumah tradisional Jepang yang ada di samping kedai teh ini. ternyata di dalamnya banyak terdapat lukisan-lukisan dengan tulisan jepang. Aku tidak mengerti apa artinya dan apa tulisannya. Tapi kata Kyujong oppa, dia bisa berbahasa Jepang.

Aku terpesona dengan lukisan-lukisan disini, semuanya bagus-bagus. Namun mataku tertuju pada sebuah lukisan.

“ippuda..” ucapku pada Kyujong oppa saat melihat lukisan itu.

Lukisan seorang yeoja bersayap yang sedang terbang di langit. Namun wajah yeoja itu tidak kelihatan jelas. Hanya berupa siluet, namun tergambar jelas bahwa yeoja itu sangat yeppeo.

“yeoja ini mirip kau..” kata Kyujong oppa.

Dia lalu memandangiku. Lama sekali. Aku hanya terdiam. Jantungku sudah hilang. Dia memandangiku dengan tulus.

Aku bisa lihat dari sorot matanya. Kenapa dia memandangiku seperti ini?

“kenapa kau memandangiku terus,oppa?”

“ entahlah. Aku hanya merasa nyaman bila melihat wajahmu. Sama seperti jika aku melihat yeoja di lukisan ini.”

“kau bisa baca tulisan jepang kan,oppa?”

“hem.. bacaannya.. tenshi.. oh, tenshi. Pantas saja yeoja ini cantik sekali!”

“tenshi? Apa itu?”

“tenshi artinya cheonsa. Hem, kau cocok menjadi cheonsa.”

Aku menunduk. Mengapa dia mengatakan aku mirip cheonsa? Iya, memang aku adalah seorang cheonsa. Namun bagiku itu bukanlah pujian.

~~~

“oppa! Jangan memandangi aku terus!” ucapku.

“waeyo?” tanya Kyujong oppa.

‘Karena kau membuat aku deg-degan! Berhentilah menatapku seperti itu! aku jadi makin jatuh cinta padamu! Hentikan!’

Namun aku hanya diam.

Hari ini kami berjalan-jalan ke sebuah pasar bunga. Kami masuk ke sebuah toko yang lumayan besar.

“igeon.. untukmu..” ucap Kyujong oppa sambil menyerahkan seikat bunga freesia yang sudah dibayarnya.

“untukku? Ah.. gomapda..”

Aku menerima freesia itu lalu tersenyum. Bunga ini memang indah.

“aku suka sekali freesia. Freesia adalah bunga favoritku. ” Ucap Kyujong oppa.

“lalu, kenapa kau membelikan ini untukku?”

“karena aku lebih suka padamu daripada bunga ini.”

Deg!

Apa yang dikatakannya barusan? Ulangi sekali lagi..! ulangi!

“eh? Kau bilang apa tadi oppa?”

Kyujong oppa terlihat panik dan salah tingkah.

Dia lalu berkata,”eh? Apanya? Yang mana? Eh, bisnya sudah datang. Kkaja!”

Dasar… dia pasti mengalihkan perhatian. Apa mungkin aku yang salah mendengar?

~~~

Aku meletakkan freesia yang diberikan Kyujong oppa tadi di dalam sebuah vas berisi air di meja yang ada di samping tempat tidurku. Aku tersenyum memandangi freesia itu. freesia, melambangkan ketulusan. Kyujong oppa, sangat pantas diibaratkan sebagai bunga freesia.

Aku berbaring di atas tempat tidurku dan menarik selimut menutupi seluruh badanku. Aku memejamkan mataku.

~~~

Hari ini aku tidak datang ke sekolah. Aku pergi ke daerah di dekat laut dengan Hyunjoong oppa. Bukan untuk liburan, melainkan untuk bekerja. Iya, aku harus mencabut nyawa seseorang. Lagi. hyunjoong oppa ditugaskan menemaniku karena ini pertama kalinya aku harus mencabut nyawa seseorang yang tempat tinggalnya jauh. Jadi cheonsa-apalagi cheonsa seperti aku-bisa saja tersesat. Hyunjoong oppa lebih berpengalaman, jadi dia ditugaskan menemaniku.

Aku hanya terdiam sepanjang perjalanan, mencoba menahan air mataku karena sebentar lagi aku harus mendengar tangisan keluarga yang kehilangan. Sementara Hyunjoong oppa juga terdiam. Terjadilah situasi canggung di dalam mobil Lamborghini miliknya itu.

Akhirnya aku memutuskan untuk melihat-lihat jalanan, mencoba menghilangkan rasa sedihku. Namun hatiku tidak terhibur sama sekali. Aku akhirnya mencoba memejamkan mataku untuk tidur. Sialnya aku tidak mengantuk.

“bosan?” tanya Hyunjoong oppa.

Aku hanya mengangguk, jelas saja aku bosan. Sudah dua jam lebih aku berada di mobil ini tanpa bergerak sedikitpun.

“kita akan sampai kira-kira satu jam lagi. kalau kau mengantuk tidur saja. Nanti akan kubangunkan.”

“aku tidak mengantuk, oppa.”

“jadi kau lapar?”

Aku menggeleng. Sebenarnya aku ingin bertemu Kyujong oppa. Aku merasa sedikit aneh jika tidak bertemu dengannya, karena beberapa bulan belakangan ini aku selalu bertemu dengannya tiap hari di halte bis.

Senyumannya yang tulus selalu terbayang di wajahku. Membuatku ingin selalu menemuinya tiap hari. Namun aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada Hyunjoong oppa, takut dia akan mengadukanku pada cheonsa kepala atas kesalahanku menyukai seorang manusia.

~~~

Seperti biasa, aku menangis setelah tugasku selesai. Hyunjoong oppa hanya terdiam. Mungkin dia sudah terbiasa menghadapi cheonsa sepertiku ini.

Kira-kira kami akan sampai di rumahku sekitar dua jam lagi. hari sudah malam. Aku mulai mengantuk. Aku menguap.

“tidurlah.” Ucap Hyunjoong oppa.

“ne. Selamat malam. Aku tidur dulu. Nanti kau bangunkan
aku ya,oppa.”

Aku merasa lelah sekali. Akhirnya akupun terlelap.

~~~

Aku melangkahkan kakiku dengan bersemangat ke arah halte. Aku akan bertemu Kyujong oppa hari ini. senangnya… sehari saja tidak bertemu dengannya aku sudah sangat rindu.

Padahal hari ini hari Minggu, jadi aku tidak perlu ke sekolah. Tapi biasanya kami juga bertemu di hari Minggu. Jadi aku merasa sangat bersemangat.

Dugaanku benar, Kyujong oppa sudah menunggu. Dia tersenyum saat melihatku lalu menarik tanganku. Dia mengajakku berjalan ke sebuah gedung apartemen. Aku tidak tahu siapa yang tinggal disini, tetapi aku tidak
menanyakannya pada Kyujong oppa.

Kami menaiki lift, dan jarinya menekan tombol 20. Lantai 20? Tinggi sekali. Siapa yang tinggal disini?

Ternyata lantai 20 adalah atap apartemen ini. dari sini kami bisa melihat pemandangan kota Seoul. Angin terasa sangat kuat berhembus. Kyujong oppa tersenyum lalu menyuruhku duduk di lantai atap ini.

Dia duduk di sampingku, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan yang dibawanya dari tadi. Bungkusan apa itu? ternyata isinya layangan.

“layangan? Untuk apa,oppa?”

“disini anginnya kencang, jadi cocok sekali untuk bermain layangan.”

Dia menyerahkan sebuah layangan berwarna putih untukku. Dan dia sendiri mengambil yang berwarna kuning. Namun dia menyelipkan sebuah amplop putih di dalam layanganku. Saat kutanya, dia hanya menjawab,”hem.. nanti saja ya kau buka,kalau kau sudah sampai di rumahmu.”

Aku hanya mengangguk mengerti, lalu kami berdua berdiri dan mulai menerbangkan layangan masing-masing.

Layangannya cepat sekali naik, sementara layanganku masih saja berada di atas lantai.

Akhirnya dia mengizinkanku memainkan layangannya yang sudah tinggi, sementara dia menyuruhku menyimpan layanganku karena aku harus membaca surat darinya itu.

“wah.. senangnya bermain layangan seperti ini..” ucapku dengan wajah girang.

“haha… lain kali aku akan mengajakmu kesini lagi..” ucap Kyujong oppa.

Aku hanya tersenyum dan terus memainkan layangan Kyujong oppa yang sudah mencapai awan.

~~~

Malamnya aku mengambil amplop yang diberikan Kyujong oppa tadi. Jantungku berdetak kencang. Apa ya kira-kira isi surat ini? aku perlahan membuka surat yang terdapat dalam amplop itu. surat ini harum sekali, harum bunga freesia. Aku mulai membaca satu persatu kata yang terdapat dalam surat itu.

Untuk Kim Junri
Hem.. annyeong haseyo ^^

Aku tidak tahu harus mulai dari mana. aku sangat bingung saat menulis surat ini.

Junri-ah.. tahukah kau, sebelum bertemu denganmu aku merasa sangat kosong. Hidupku sangat biasa-biasa saja. Namun semenjak bertemu denganmu di halte bis itu, aku merasa berbeda. Hidupku menjadi lebih cerah dari biasanya. Aku menjadi lebih semangat untuk pergi kuliah karena aku berharap bisa bertemu denganmu.

Junri-ah.. aku merasa sangat bahagia bisa mengenal yeoja sepertimu. Kau memberiku kebahagiaan, layaknya cheonsa yang turun dari cheonguk untuk memberi kebahagiaan.
Junri-ah.. neon naui cheonsa. Bagiku kau adalah cheonsa. Cheonsa yang membuatku selalu tersenyum tiap hari dan merasakan cinta.

Saranghandago.

Kim Kyujong

Air mataku menetes karena dua alasan. Pertama, aku terharu karena dia ternyata merasakan apa yang aku rasakan padanya. Kedua, aku merasa sedih. Karena aku bukanlah cheonsa pembawa kebahagiaan, justru aku adalah cheonsa pencabut nyawa. apakah kau akan tetap mencintaiku jika kau tahu aku adalah cheonsa pencabut nyawa?

namun tiba-tiba aku terkekeh, ternyata namja ini sangat tradisional. Jaman sekarang jarang sekali orang menyatakan perasaannya dengan surat. Namja ini menarik sekali. Hihi.

~~~

Entah kenapa perasaanku sangat tidak enak hari ini. padahal sekarang aku sedang berjalan bersama Kyujong oppa. Kami ingin makan malam. Oh iya, kami sudah “resmi” sekarang. Haha.

“jagiya.. kau mau tambah lagi?” tanya Kyujong oppa sambil menyerahkan sepiring makanan ke arahku.

Aku yang sedang minum terbatuk-batuk. Aku tidak terbiasa dengan panggilan jagiya itu.

“eh.. tidak usah..”

Nafsu makanku berkurang karena aku merasa tidak enak hari ini. akhirnya aku memaksakan makan. Kyujong oppa terus menerus memandangiku. Apa dia menyadari aku sedang merasa tidak enak?

“jagiya.. kau kenapa?” tanya Kyujong oppa.

“eh? Aku.. aku hanya.. gwaenchanayo. Aku tidak kenapa-napa.”

“bohong. Kau sakit ya?”

“aku… tidak enak badan.”

“yasudah.. kita pulang saja,ya?”

Kyujong oppa lalu membayar makanan kami dan merangkulku hangat. Begini lebih nyaman. Kami lalu berjalan keluar restoran.

~~~

Kami berdua berdiri di halte bis yang sepi. Kyujong oppa terus merangkulku, mencoba membuatku merasa nyaman.

Tiba-tiba datang seorang namja yang berpakaian serampangan mendekati kami. Aku mendekatkan diriku pada Kyujong oppa, karena aku merasa sedikit takut.

Tiba-tiba namja itu mengeluarkan sebuah pistol. Aku menjerit.

“SERAHKAN UANG KALIAN!”

Aku memeluk Kyujong oppa karena aku sangat sangat sangat takut. Dia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkannya pada perampok itu. aku mulai menangis.

Perampok itu melirik gelang di tanganku, lalu berteriak,”LEPASKAN GELANG ITU!”

Aku menggeleng dan menyembunyikan tanganku. Gelang ini pemberian kedua orangtuaku. Ini peninggalan mereka yang aku punya. Aku tidak akan melepaskan gelang ini.

Kyujong oppa mendorongku agar berdiri di belakangnya.

“Junri-ah! cepat lari!”

“tidak! Aku tidak mau! Oppa bagaimana?”

“larilah! Aku akan menyusulmu! Percayalah padaku!”

Akhirnya aku berlari menjauh. Namun tiba-tiba terdengar suara tembakan.

DOR!

Aku segera menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Kyujong oppa sudah tergeletak di atas semen yang dingin. Peluru sudah mengenai dadanya. Perampok yang menembaknya kabur entah kemana.

“oppa! Sadarlah! Oppa!” air mataku mengalir deras. Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya.

Kyujong oppa tak sadarkan diri, namun dia masih hidup. Akhirnya orang yang lewat membawa Kyujong oppa ke rumah sakit.

~~~

Aku hanya terduduk di luar ruang ICU tempat Kyujong oppa yang sedang kritis dirawat. Peluru di dadanya sudah diambil lewat operasi kemarin. Sudah tiga hari Kyujong oppa kritis. Tapi aku optimis dia akan sembuh. Dia pasti sembuh.

“Junri-ah..” terdengar suara seorang namja. sepertinya aku kenal suara siapa ini.

“Hyunjoong oppa? Kenapa kau kesini?”

“sebenarnya, Junri-ah, aku harus memberitahumu tugasmu selanjutnya.”

Dia duduk di sampingku. Aku menatapnya heran.

“tugasku? Biasanya aku diberi penglihatan sebelum melakukan tugasku.”

“hem,, tapi… sekarang berbeda. Akulah yang akan memberitahukan apa tugasmu selanjutnya.”

“tapi, aku harus tetap disini untuk tetap tahu kondisi Kyujong oppa. Aku tidak bisa meninggalkannya untuk pergi ke tempat dimana aku harus menyelesaikan tugasku.”

“Junri-ah.. sebenarnya.. kau tidak perlu pergi kemana-mana.”

“ma.. maksudmu?”

“yang harus kau cabut nyawanya adalah.. Kyujong.”

Deg! Jantungku serasa tidak berdetak lagi. air mataku mulai mengalir.

“aku.. aku tidak bisa. aku tidak mau!”

“kau harus mau! Ini adalah perintah-Nya!”

“pokoknya aku tidak mau!”

“kau nanti bisa mati!”

“biar saja aku mati!”

“kau tidak boleh begitu!”

“tapi aku sangat mencintainya! Kalau dia mati, aku ingin mati juga!”

“Junri-ah! kau keterlaluan sekali!”

Aku terdiam sesaat. Rasanya aku tidak sanggup melakukan tugasku kali ini. kepalaku terasa pusing. Dan semuanya tiba-tiba gelap.

~~~

Saat aku terbangun aku sudah berada di sebuah kamar. Sepertinya kamar rumah sakit. Aku mencoba duduk walau kepalaku terasa pusing. Ternyata ada Hyunjoong oppa di kamar ini.

“Hyunjoong oppa. Kenapa aku?”

“kau pingsan. Dasar, ternyata kau belum makan ya dari kemarin?”

“iya. Oppa, bagaimana Kyujong oppa?”

Air mataku mengalir lagi. aku takut mencabut nyawanya.

“dia.. dia.. sebenarnya tadi aku hanya bercanda. Dia masih bisa hidup kok. Hahahaha..”

Hyunjoong oppa tertawa keras.

Wajahku memerah. Aku sangat marah. Bisa-bisanya dia membohongiku? Aku sangat shock. Sangat sangat shock.

“ya! Junri-ah, jangan marah. Maksudku aku hanya mengetesmu. Ternyata kau memang tidak bisa mencabut nyawanya. Dasar, berarti kau tidak bisa hidup tanpanya ya? dramatis sekali. hihihi..”

“kau jahat sekali oppa!”

“hehe. Mianhae. Junri-ah, ada yang ingin kukatakan padamu.”

“mwo?”

“sebaiknya kau menjauhi Kyujong.”

“mwo? Tidak mau! Jadi sekarang kau mau bercanda lagi? tidak lucu!”

“ini demi kebaikanmu Junri-ah.”

“demi kebaikanku?”

“tahukah kau jika cheonsa jatuh cinta dengan manusia, dan manusia itu juga merasakan hal yang sama, dalam waktu dekat manusia itu akan menemui maut?”

“mwo? Kau bercanda kan? Aku tidak pernah dengar peraturan seperti itu!”

“junri-ah, jika kau menjauh darinya, dia akan bertahan hidup!”

Aku terdiam.

Iya, aku harus menjauh dari Kyujong oppa. Aku harus menjauh darinya, sebelum aku harus melakukan hal yang mengerikan, yaitu mencabut nyawanya.

~~~

Hari ini aku sudah memutuskan untuk pulang ke rumahku dan tidak akan menghubungi Kyujong oppa lagi. Aku akan memulai hidup baru. Mengerjakan tugasku dengan baik, tanpa harus memikirkan Kyujong oppa. Sebenarnya aku tidak sanggup, tapi aku harus melakukan ini.

Aku menyeret koperku ke arah kamar Kyujong oppa. Dia sudah dipindahkan ke ruang inap biasa. Dia sudah mulai membaik, syukurlah. Selama seminggu ini aku selalu di rumah sakit untuk menjaganya, dan karena itulah aku membawa pakaianku untuk tidur disini.

Sepertinya dia sedang tidur. Aku masuk perlahan ke dalam. Lalu dengan hati-hati mengelus tangannya yang hangat.

“annyeonghi gaseyo, oppa.” Jawabku lirih.

Air mataku mengalir. Aku segera menghapusnya. Aku lalu mencoba berjalan keluar.

Namun tanganku tertarik. Kyujong oppa menarik tanganku.

“kau mau kemana?” tanyanya, dengan suara lemah.

“eh? Aku.. aku..”

“kenapa kau menangis?”

“aku tidak kenapa-napa. Oppa, aku keluar dulu ya. aku.. ada urusan.”

Dia tidak melepaskan tanganku. Dia tersenyum, namun air matanya mengalir.

“sebelum kau pergi ada beberapa hal yang ingin kusampaikan.”

“apa?”

“pertama, saranghanda. Aku sangat menyayangimu. Kedua, mianhae selama ini aku selalu merepotkanmu. Yang ketiga, gomawo.”

“gomawo untuk apa?”

“karena kau sudah menjadi cheonsa untukku, karena dirimulah aku merasakan…. hem.. cinta.”

“aku.. aku..”

Air mataku mengalir makin deras. Aku lalu melepaskan tangannya dan menarik koperku. Aku berlari ke luar rumah sakit. Aku tidak bisa terlalu lama melihatnya. Nanti aku semakin sakit untuk meninggalkannya.

Aku berlari menuju rumahku.

~~~

Dua bulan kemudian..

~~~

Hari ini aku merasa sangat kesepian. Hyunjoong oppa yang biasanya menjadi chinguku sedang pergi ke luar kota. Aku sangat kesepian.

Aku berjalan keluar rumahku menuju jalanan. Aku tidak tahu akan kemana. Setidaknya jalanan ramai, jadi aku tidak akan merasa kesepian.

Namun dugaanku salah. Walaupun jalanan ramai sekali, aku tetap saja merasa sepi.

Aku duduk di sebuah kursi. Tiba-tiba seorang yeoja duduk di sampingku.

“annyeong haseyo Kim Junri-sshi..”

“darimana kau tahu namaku? Nuguseyo?”

“Jae ireum Park Rinrin imnida. Aku adalah cheonsa kepala.”

“oh.. jadi kau adalah cheonsa kepala?”

“gurae. Nah, sekarang kenapa kau duduk disini? Hem sepertinya kau sangat kesepian ya?”

“iya. Aku merindukan oppaku.”

“kalau begitu tutuplah matamu.”

Aku mengikuti perintahnya. Beberapa saat kemudian mataku terasa aneh dan sakit. Aku lalu membuka mataku, dan cheonsa kepala sudah hilang dari hadapanku.

~~~

Aku bangun dari tidurku. Hari ini hari minggu. Membosankan. Aku tidak tahu harus kemana. Ya, daripada di rumah saja.

Aku berjalan menuju kamar Hyungjun oppa. Aku harus membereskan debu di kamarnya. Walaupun penghuninya sudah tidak ada, tetap saja aku harus menghormatinya.
Saat aku melihat tempat tidurnya, mataku serasa ingin melompat keluar. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Hyungjun oppa sedang berbaring, tidur di atas tempat tidurnya. Ini pasti hanya mimpi. Bangun! Bangun! Aku menampar diriku sendiri agar aku terbangun. Namun ini bukan mimpi. Ini nyata. Dia sedang berbaring disitu.

Tiba-tiba dia bergerak. Dia terbangun dan tersenyum melihatku. Dia berlari ke arahku lalu memelukku.

“Junri-ah!!!! bogoshipdaaaa!”

“Hyungjun oppa? Bukankah kau sudah…”

“iya, aku memang sudah meninggal. Tapi kau bisa melihatku, dongsaeng cheonsa ku…”

“cheonsa? Kau sudah tahu?”

“ne. Dan kau bisa melihatku karena Tuhan mengizinkanmu, melalui cheonsa kepala.”

“jadi mulai sekarang aku bisa melihat orang mati?”

“ne. Selama orang tersebut belum tiba waktunya untuk benar-benar pergi dari dunia ini.”

“berarti kau belum?”

“belum lah, babo! Mungkin besok lusa aku akan pergi meninggalkanmu..”

Aku tersenyum dan menangis bahagia. Aku sangat merindukan oppaku ini. aku harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.

~~~

Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Hyungjun oppa sudah tidak ada disini lagi, dia sudah benar-benar pergi, dan aku kesepian lagi.

Aku berjalan menuju halte bis, mengingatkanku pada Kyujong oppa. Dadaku sesak setiap mengingat wajahnya, matanya, senyumannya…

Namun aku melihat seorang namja duduk di halte dengan memakai headphone putih. Sepertinya aku sangat mengenali namja ini.

Aku mendekatinya dengan ragu.

Namja itu berbalik dan berdiri saat melihatku. Dia tersenyum, lalu memelukku.

“Kyujong oppa? Kau.. kau sudah keluar dari rumah sakit?” tanyaku tidak percaya.

“iya. Bogoshipda Junri-ah.. hem, kkaja..”

Dia menarik tanganku.

“mau kemana kita?”

“ke themepark. Sudah lama aku tidak kesana… temani aku ya, jagiya?”

~~~

Mungkin karena lama tak bertemu kami menjadi sedikit canggung, namun kami mulai akrab lagi. kami bermain seharian disini. Bermain roller coaster dan wahana lainnya.

“menyenangkan sekali, ya?” tanyaku saat kami sedang duduk sambil makan es krim.

“ne. Hem, Junri-ah…”

“ye?”

“saranghaeyo.”

Dia lalu menarik wajahku dan mencium keningku. Dia menangis.

“kau kenapa oppa?”

“aku harus pergi..”

“maksudmu?”

“aku harus pergi, dan kau tidak akan pernah melihatku lagi. jadikanlah hari ini kenangan paling berharga untuk kita.”

“oppa, jangan bercanda. Aku tidak mengerti maksudmu!”

“nanti kau akan tahu. Annyeonghi gaseyo. Saranghaeyo.”

Dia berdiri lalu berjalan meninggalkanku sendirian.

Dia berjalan ke luar themepark. Aku mengejarnya. Namun dia tidak ada. Cepat sekali dia berjalan…

~~~

malamnya

Tok.. tok… tok..

Aku membuka pintu. Ternyata Hyunjoong oppa.

“Hyunjoong oppa?”

Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia menarik tanganku masuk ke dalam mobilnya.

~~~

Kami berhenti di depan sebuah lapangan yang luas. Aku tidak tahu tempat apa ini.

“Junri-ah, kenapa matamu sembab? Kau habis menangis
ya?”

“ne. Karena tadi Kyujong oppa meninggalkanku.”

“berarti benar apa yang dikatakan cheonsa kepala. Dia membuatmu bisa melihat orang mati.”

“iya, tapi hanya sekali. hanya Hyungjun oppa..”

“jadi yang tadi siang pergi bersamamu?”

Aku terdiam. Apa maksudnya?

“apa maksudmu oppa? Kyujong oppa baik-baik saja kok.”

“tapi dia sudah meninggal. Dan waktunya di dunia hanya sampai hari ini.”

Aku mulai menangis.

“kau bohong,oppa! Kau bohong! Aku sudah menjauhinya waktu itu, tidak mungkin dia mati!”

Dia menarik tanganku untuk turun dari mobilnya. Dia menarikku berjalan memasuki lapangan yang luas itu. ternyata itu adalah sebuah pemakaman. Dia berhenti di depan sebuah makam. Dia menyuruhku melihat tulisan di batu nisan itu. aku terduduk saat melihat tulisan di nisan itu.

Kim Kyu Jong
24/02/1987 – 01/12/2008

Junri’s PoV end

~~~

Hyunjoong’s PoV

Flashback

Sebenarnya aku tidak berbohong. Junri memang benar-benar harus mencabut nyawa Kyujong. Tapi dia malah pingsan. Aku tidak tega. Dia pasti sangat sedih jika dia harus mencabut nyawa namjachingunya itu.

Akhirnya aku berbohong, mengatakan aku hanya bercanda agar dia tidak curiga. Dan aku berbohong, berkata jika Junri dekat dengan Kyujong, Kyujong akan meninggal.

Akhirnya dia meninggalkan Kyujong di rumah sakit.

Aku mengintipnya berlari sambil menangis, dengan menyeret koper. Junri, kasihan sekali kau.

Aku berjalan masuk ke dalam kamar Kyujong. Setelah perundingan dengan cheonsa kepala, akhirnya aku diizinkan untuk menggantikan Junri untuk mencabut nyawa Kyujong. Aku mencabut nyawanya.

Mianhae Junri. aku berbohong padamu agar kau tidak merasa sakit. Mianhae. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah kematian namjachingumu itu. jeongmal mianhaeyo.
~~~


2 Responses to “FanFic: NEON NAUI CHEONSA CHAPTER 2-END”


  1. 1 Lavender
    10 October 2011 at 1:52 pm

    Ceritanya kok kayak komik2 jepang yg pernah aku baca yak. Salah satunya itu fallen angel. Haha
    tapi ff nya bagus kok. Walopun aku g terlalu suka sama castx. Hehe V

  2. 2 KHJ fan
    21 October 2011 at 10:45 pm

    yup kok kyu jong mulu…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

SS501

Kim Hyun Joong, Heo Young Saeng, Kim Kyu Jong, Park Jung Min, Kim Hyung Jun

Disinilah tempatnya Triple S, Mighty Max, & ELF, Kiss Me berkumpul. Aku harap kalian bisa enjoy dan aku juga mohon kesediaan kalian untuk tidak pelit dalam bercomment dan ngevote postingan yg menurut kalian bagus. Thanks

Pasang Banner Affiliate ini Juga yah diblogmu

Buat yang berminat jadi Author di blog ini silahkan mendaftarkan diri [DISINI]

Kalo mau curhat , comment hal2 yg gak penting, request, bashing-bashingan [Disini]

Jangan Lupa Buat Follow Aku Di Twitter

Add Me On Facebook

T-Max

Kim Joon, Shin Min Chul, Park Yun Hwa, Park HanBi, Joo Chanyang

U-Kiss

Alexander, SooHyun, KiBum, KiSeop, Eli, Kevin, DongHo

Top Rate

Categories

Visitor

  • 525,855 Visitor, Thanks For Coming

Tweeted

  • وقالوا أإذا ضللنا في الأرض أإنا لفي خلق جديد بل هم بلقاء ربهم كافرون ﴿١٠﴾--سورة السجدة #Quran 57 minutes ago
  • قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنه لا يأتي عليكم زمان إلا الذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم -- صحيح البخاري #Hadith #ﷺ #ﷺ 16 hours ago
  • قال رسول الله : سبعة يظلهم الله : رجل ذكر الله ، ففاضت عيناه - صحيح البخاري ﷺ #ﷺ 17 hours ago
  • أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق . (ثلاثا إذا أمسى) #أذكار_الصباح_والمساء #Hadith 18 hours ago
  • قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «ما زال جبريل يوصيني بالجار، حتى ظننت أنه سيوَّرثه» #نشر_سيرته #ﷺ 22 hours ago

Max Triple Kiss Worlds


%d bloggers like this: