21
Mar
10

FanFic: The One

Wah lagi kebanjiran fanfic nih….. he he he

Credit: Koreanpoplover + FFindo

Author: Xin Kiss

*****************

Yeon Hee menatap buku tahunan SD-nya. Satu persatu nomor telepon yang tertera di sana ia hubungi. Ia dan ketiga sahabat karibnya mempunyai rencana untuk mengadakan sebuah reuni SD. Sudah tujuhbelas tahun mereka tidak bertemu satu sama lain. Makanya, untuk mengobati rasa rindu, Yeon Hee mencoba untuk mengadakan reuni SD.

Yeon Hee menatap buku tahunan sambil senyum-senyum sendiri. Ia teringat sama kenangan-kenangan manis selama mereka di SD. Sahabatan yang nempel terus seperti permen karet. Cinta monyetlah. Merayakan ulang tahun guru. Bersaing untuk jadi nomor satu di sekolah. Bahkan rebutan cowok idaman. Sepele, tapi itu merupakan kenangan hangat bagi Yeon Hee.

Tiba-tiba, Yeon Hee terpaku melihat foto Hyung Joon. Ia ingat, ia pernah menyukai Hyung Joon. Dulu, Hyung Joon sudah seperti cowok idaman. Pintar, pandai memimpin, dan manis. Bukan hanya itu. Bahkan Hyung Joon sangat perhatian sama Yeon Hee. Mereka selalu bersama-sama. Sudah seperti anak kembar.

Yeon Hee menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia harus menelpon teman-temannya. Bukan waktunya melamunkan Hyung Joon.

*

Yeon Hee menatap sebuah café yang sudah ia dekorasi sekeren mungkin dengan warna-warna yang cerah. Seperti warna-warna SD yang penuh warna. Biru muda. Hijau. Pink. Pokoknya semua hal yang ceria numpuk di situ. Yeon Hee memeriksa setiap sudut café dengan teliti. Makanan. Minuman. Semua harus perfect. Sedangkan tiga sahabatnya sibuk menjemput teman-temannya yang lain. Yeon Hee menepuk tangannya dan berkacak pinggang. Ia sangat puas dengan hasil kerjanya.

Kriet.

Yeon Hee membalikkan badannya. Menatap pintu yang setengah terbuka di belakangnya. “Ye Jin ya?” Seorang cewek mungil dengan rambut hitam pendeknya berdiri di belakang Yeon Hee. “Wah kamu makin imut aja.” Cewek yang akrab dipanggil Ye Jin hanya tertawa kecil. “Itu pacar kamu?”

“Iya. Hehehe kenalin ini Se In. Jung Se In.” Ye Jin melepaskan genggamannya dan mengenal cewek jangkung di hadapannya pada pacarnya. “Oppa, ini Yeon Hee. Shim Yeon Hee. Temen ku yang paling jangkung, pinter, tapi ceroboh.”

Yeon Hee melirik Ye Jin. “Pss jangan nyebarin aib donk!” bisiknya ke Ye Jin. “Eh pacar kamu boleh juga hehehe.” Ye Jin setengah cemberut menatap Yeon Hee. “Maksud ku, dia punya temen yang ganteng nggak. Minta kenalin gitu hahaha.”

“Trus gimana nasibnya Hyung Joon? Pangeran idaman?” goda Ye Jin.

“Ah Mullayo. Hahaha. Eh ngobrol aja neh! Masuk sana cicip cake yang ku bikin.” Yeon Hee menarik tangan Ye Jin ke tengah ruangan diikuti pacar Ye Jin. Tidak lama setelah tamu pertama datang, tamu-tamu yang lain mulai berdatangan. Yeon Hee dan tiga sahabatnya. Saling bertatapan dan tersenyum bangga. Acara reuninya sangat ramai.

Hampir semua alumni SD KwangJoo datang. Walau ada beberapa orang yang berhalangan.

Tapi Yeon Hee sedikit kecewa. Hyung Joon tidak dapat datang ke acara. Yang ia dengar dari temannya yang dulu satu Universitas dengan Hyung Joon memberi tahu, kalau Hyung Joon mungkin tidak dapat datang karena ia sekarang sedang ada di luar Seoul untuk konser SS501. Maklum, dia sekarang jadi selebritis. Sekarang Hyung Joon jadi salah satu personil SS501. Yeon Hee hanya menghelakan nafas kecewa. Jujur saja, Yeon Hee masih suka dengan Hyung Joon. Aneh memang. Cinta monyet masih ia jalani sampai sekarang. Tapi bukan berarti Yeon Hee tidak punya harapan untuk jadi kekasihnya Hyung Joon bukan?

Acara reuni berjalan dengan lancar. Bahkan di tengah acara, salah satu sahabat Yeon Hee, menyanyikan sebuah lagu buatan mereka diiringi dengan piano dan biola yang dimainkan kedua sahabat Yeon Hee lainnya. Yoon Cha yang mengiringi dengan biola, Min Kyeong yang memainkan piano, sedangkan yang menyanyi adalah Seo Hae. Yeon Hee sangat bangga dengan ketiga sahabatnya yang hebat-hebat.

Yeon Hee menatap jam dinding berbentuk oval biru di hadapannya. Lima belas menit lagi acara selesai. Ternyata Hyung Joon benar-benar sibuk sekarang. Bahkan tidak punya waktu untuk datang walau hanya menampilkan wajahnya di hadapan Yeon Hee. Yeon Hee menepuk-nepuk pipinya kasar. “Sadar Yeon Hee. Hyung Joon sekarang sudah jadi artis. Perbandingan antara datang dan tidak datang 5 : 95.” Yeon Hee bergumam sendiri. “Hah…” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk-nepuk pipinya berulang kali.

Yeon Hee tidak sadar kalau di hadapannya sudah muncul seorang cowok manis. “Apa yang kau lakukan?” ujar cowok itu. Yeon Hee berhenti menepuk-nepuk pipinya. Yeon Hee menggeleng. “Ikut aku. Ada yang mau aku bicarakan.” Cowok itu menarik tangan Yeon Hee ke luar ruangan.

“Sejak SMU, aku sudah suka kamu.” Cowok itu menatap mata Yeon Hee dalam. “Ku kira, aku hanya menyukaimu. Ternyata aku mencintaimu. Bahkan aku masih mencintaimu sampai sekarang.” Cowok itu menarik nafas. “Apa kamu mau jadi pacarku?” cowok itu memegangi kedua tangan Yeon Hee.

Yeon Hee tergugup. Biarpun ia sudah pernah merasakan rasanya dinyatakan cinta dari cowok, bahkan yang paling tampan sekalipun, tapi ia tak pernah pacaran. Mungkin orang-orang menganggapnya bodoh, norak, atau apalah, dia tetap menyukai Hyung Joon. Bukan hanya suka, Yeon Hee bahkan mencintai Hyung Joon. “Mianhaeyo.” Yeon Hee melepaskan tangan cowok itu. “Aku menyukai orang lain. Aku tidak bisa kalau bukan dia.” Yeon Hee membungkukkan badannya.

Cowok itu menghelakan nafas. “Aku tahu. Hyung Joon kan?” Cowok itu menatap Yeon Hee. Yeon Hee hanya mengangguk. “Mianhae kalau aku egois. Aku cuma ingin memilikimu. Semoga kamu bahagia dengannya.” Cowok itu mengelus kepala Yeon Hee lembut. “Tapi aku masih bersedia jadi teman curhat mu. Hahaha.” Ia tersenyum tulus.

“Jae Ho. Mianhaeyo.” Yeon Hee menggigit ujung bibir bawahnya. Jae Ho hanya tersenyum. Ia menarik tangan Yeon Hee.

Seisi ruangan menatap Yeon Hee dan Jae Ho bingung. Ketiga sahabat Yeon Hee menatap penuh tanya. “Apa kalian jadian?” Seo Hae melihat wajah Yeon Hee dan tangan Yeon Hee yang masih digenggam Jae Ho bergantian. Dengan wajah bodohnya, Yeon Hee melihat Seo Hae bingung. Kemudian, ia melihat tangan kirinya yang masih digenggam Jae Ho.

Jae Ho yang menyadari pandangan seisi ruangan, malah semakin menggenggam tangan Yeon Hee. “Kami cuma sahabat. Benarkan Yeon Hee?” Yeon Hee hanya tergagap mengiyakan. Mendengar pernyataan Jae Ho, teman-temannya hanya menyoraki Jae Ho. Jae Ho tertawa. “Kok sepi ya? Pada kemana?” Mata Jae Ho yang tajam menyapu seisi ruangan.

Salah satu teman Jae Ho berdiri. Ia mengambil jaket hijaunya. “Sudah banyak yang pulang. Aku juga pulang sekarang. Kau mau bareng tidak?” ujarnya sambil mengenakan jaketnya dan mengambil kunci mobil di kantung jaketnya. Jae Ho hanya mengangguk dan mengikuti temannya.

Selang beberapa menit, ruangan sudah kosong. Memang sudah waktunya acara selesai. Yeon Hee dan ketiga sahabatnya hanya menatap ruang kosong di hadapan mereka. Min Kyeong berkacang pinggang. “Nah ayo kita mulai rapikan.” Ia maju duluan untuk merapikan ruangan sambil menarik Yoon Cha. Min Kyeong dan kedua sahabatnya sudah mulai bekerja, tapi tidak untuk Yeon Hee. Yeon Hee hanya duduk di hadapan piano. Jari-jari lentiknya menyentuh satu per satu tutsnya. “Hey! Kenapa kamu malah bermain piano?!” teriak Min Kyeong. Yeon Hee hanya tertawa melihat sahabatnya mulai mengomel. “Bantulah merapikan ini.” Yeon Hee bangkit.

“Aish… Sepertinya aku telat!” Seorang cowok berdiri di depan pintu saat Yeon Hee dan ketiga sahabatnya selesai merapikan ruangan.

Yeon Hee menatap ke arah pintu. Berjalan menuju pintu. Ia menatap dalam-dalam cowok di hadapannya. “Hyung Joon?” Yeon Hee menutupi mulutnya. Ia tak menyangka Hyung Joon dapat meluangkan waktunya untuk datang. “Kamu telat bodoh!” Yeon Hee meninju lengan kanan Hyung Joon. “Kalau tidak… Hmp.”

Seo Hae membungkam mulut Yeon Hee. Sedangkan Min Kyeong dan Yoon Cha memegangi kedua tangan Yeon Hee. “Hyung Joon-sshi, kamu mau kan mengantar Yeon Hee pulang? Kami tidak bisa mengantar Yeon Hee. Karena setelah ini kami mau pergi kencan. Tidak enak kalau mengajak Yeon Hee yang tidak punya pacar,” ujar Seo Hae panjang lebar sambil menahan rontaan Yeon Hee. “Annyeong Yeon Hee chagya.” Seo Hae, Yoon Cha dan Min Kyeong pergi begitu saja meninggalkan Yeon Hee dan Hyung Joon berdua.

Yeon Hee menatap ketiga sahabatnya kesal. “Sejak kapan mereka punya pacar? Setahu ku mereka masih single. Seenaknya saja sih ngomong!” Yeon Hee terus mengomel sambil menatap jalan.

Hyung Joon menepuk-nepuk kepala Yeon Hee. “Sudahlah. Mungkin mereka memang punya pacar,” ujar Hyung Joon sambil masuk ke dalam ruangan. Yeon Hee yang tangannya ditarik, mengikutinya di belakang. “Aku datang ke sini karena ada yang mau aku bicarakan dengan mu.” Hyung Joon duduk di balik piano. Ia mulai menekan tuts-tuts dan menyanyikan sebuah lagu.

Yeon Hee tidak menyangka kalau suara Hyung Joon sebagus ini. Selama ini, Yeon Hee hanya melihatnya dari layar kaca. Suaranya memang bagus. Tapi tidak sebagus sekarang. Memang, waktu kecil Yeon Hee pernah melihat Hyung Joon memainkan piano. Hyung Joon menarik tangan Yeon Hee. Ia mengecup Yeon Hee. “Sejak dulu, aku suka kamu. Tapi sekarang aku mencintai mu.” Hyung Joon terus memegangi kedua tangan Yeon Hee dan menatap Yeon Hee. “Kamu mau tidak terus bersama ku?”

Yeon Hee hanya menatap Hyung Joon tak percaya. Ia menyentuh pipi Hyung Joon. “Ini bukan mimpi!” teriak Yeon Hee dalam hati. Bahkan Hyung Joon memegangi tangan Yeon Hee yang menyentuh pipinya. Yeon Hee menelan ludah. “I… Uhuk uhuk.”

Hyung Joon menatap Yeon Hee kesal. Ia tersenyum mengejek. “Hey aku butuh jawaban. Kenapa kau malah terselak ludah sendiri?!” Hyung Joon bangkit dan menyentil dahi Yeon Hee pelan. “Pabo.” Hyung Joon memegangi tangan kiri Yeon Hee.

Yeon Hee melotot. “Pabo? Nugusaeyo? Na?” tangan kanan Yeon Hee menunjuk dirinya sendiri. “Enak saja nga…” Belum sempat Yeon Hee menyelesaikan kalimatnya, Hyung Joon mengecup Yeon Hee lagi. Hyung Joon langsung menarik tangan Yeon Hee keluar.

*

Yeon Hee menatap satu persatu fotonya dengan Hyung Joon. Ia masih merasa ini semua mimpi. Ia tak menyangka ternyata Hyung Joon selama ini juga mencintainya. “Bangun Yeon Hee. Hyung Joon sekarang jadi milikmu.” Yeon Hee menepuk-nepuk pipinya sendiri. “Ia juga mencintai dirimu.” Yeon Hee tersenyum sendiri.

Sekarang, Yeon Hee adalah orang paling bahagia. Sudah setengah tahun Yeon Hee menjalani hubungan dengan Hyung Joon. Yeon Hee menatap handphonenya. Tadi Hyung Joon mengirimkan pesan kalau untuk dua bulan ke depan ia akan berada di Pusan. Tidak masalah untuk Yeon Hee. Ia bisa mendukung Hyung Joon lewat telepon dan pesan. Lagipula, Hyung Joon pergi ke sana untuk konser SS501. Yeon Hee malah senang Hyung Joon dapat memperlihatkan kemampuannya di depan Triple S.

Yeon Hee manatap jam dinding di kamarnya. “Ya ampun sudah jam 6!” Yeon Hee bangkit. Ia mengutuk dirinya sendiri yang dari tadi bermalas-malasan sambil menatapi foto Hyung Joon hingga lupa untuk bersiap kerja. Kedua orang tua Yeon Hee telah lama meninggal. Oleh karena itu, Yeon Hee harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

*

“Dasar cewek penggoda!” Tiba-tiba beberapa cewek menimpuki mobil Yeon Hee dengan telur ketika Yeon Hee mengeluarkan mobilnya. Yeon Hee menatap kaca di sebelahnya yang terkena telur. Ternyata melempar telur saja tidak cukup untuk memuaskan orang-orang yang mengelilingi mobil Yeon Hee. “Heh cewek penggoda! Buat apa kau menggoda Hyung Joon sampai-sampai ia pacaran dengan mu!” Yeon Hee membuka kaca jendela. Seorang cewek berteriak dari kejauhan.

“Cara kotor apa yang kau pakai agar Hyung Joon berpacaran denganmu!?” Cewek lain berteriak dari kejauhan. Yeon Hee hanya menghela nafas. Ia menutup jendelanya dan melajukan mobilnya kencang.

*

Yeon Hee hanya menghelakan nafas kesal melihat tabloid yang memuat berita tentang dirinya dan Hyung Joon. “Tadi pagi aku melihat tabloid ini. Karena ingin memberitahu kau makanya aku membelinya.” Jae Ho menyerahkan kopi susu hangat ke Yeon Hee dan duduk di samping kiri Yeon Hee. Jae Ho dan Yeon Hee satu kantor. Tak heran kalau Jae Ho dan Yeon Hee bisa dibilang akrab.

Yeon Hee menggenggam gelas kertas kopinya. Ia menatap kesal tabloid yang ia letakkan di sebalah kanannya. “Jadi ini sebabnya mereka menyerangku?” Yeon Hee meneguk kopinya. “Mereka kesal karena aku pacaran dengan Hyung Joon.” Jae Ho menatap Yeon Hee bingung. “Iya.” Yeon Hee balik menatap Jae Ho. “Mereka menipuki mobil ku dengan telur-telur. Mereka sangat bodoh bukan? Sudah jelas mencari uang untuk membeli telur saja susah, mereka hanya membuang-buangnya!”

Jae Ho tertawa. “Kau cewek aneh. Dimana-mana kalau diperlakukan seperti itu akan marah dan nangis. Sedangkan kau sempat-sempatnya memikirkan untung-rugi membuang telur.” Jae Ho bangkit dan membuang gelas kertasnya. “Sudah sore. Kau tidak pulang?” Ia menatap jam tangannya. “Apa kau takut untuk dilempar telur lagi?”

Yeon Hee menatap Jae Ho kesal. “Buat apa aku takut dengan itu semua?” Yeon Hee bangkit dan berkacak pinggang. “Sudahlah. Aku juga mau pulang sebentar lagi. Aku harus menyerahkan laporan bulan ini dulu baru pulang.”Yeon Hee mendorong Jae Ho. “Kau pulang duluan saja. Ok?” Yeon Hee menatap punggung Jae Ho yang mulai menjauh sambil tersenyum. Yeon Hee menatap jam tangan pink-nya. Sudah pukul 5.30. Ia harus segera menyerahkan laporannya sekarang.

Yeon Hee menepuk kedua tangannya. Ia baru saja menyerahkan laporannya. Yeon Hee kembali ke ruangannya. Mengambil tas jinjingnya. Tiba-tiba nada Song Calling For You menyanyi nyaring dari handphonenya. Privat number. Yeon Hee membuka flap handphonenya. Tapi ketika diangkat, orang di seberang sudah mematikannya. Yeon Hee mengangkat pundaknya. Ia hanya menganggap itu dari orang iseng.

Ternyata, itu semua bukan orang iseng. Sudah sebulan lebih Yeon Hee harus mengalami hal yang serupa. Ratusan kali Yeon Hee harus mencuci mobilnya yang berhari-hari ditimpuki dengan telur. Ribuan kali Yeon Hee harus mendengar deringan di handphonenya maupun telepon yang memaki-makinya. Anggapan Yeon Hee salah. Bahkan di setiap jalan, banyak orang menatap sinis ke arah Yeon Hee. Mengejeknya dari kejauhan.

*

“Apa yang kalian lakukan?!” Yeon Hee menjerit-jerit. Segerombolan orang mengikat tangan dan kakinya. Mereka membawa Yeon Hee ke suaru tempat yang gelap.

Plak!

Seorang cewek dengan potongan rambut bob menampar Yeon Hee. “Cewek macam kau tak pantas menjadi pacarnya Hyung Joon!” Cewek itu menjambak rambut Yeon Hee yang panjang. “Lihat!? Kau Jelek!” Seorang cewek lain datang membawakan sebuah cermin kecil ke hadapan Yeon Hee. “Rambutmu lebih baik dipotong saja!” Lima orang di hadapan Yeon Hee memotong rambutnya asal.

Yeon Hee tak melawan. Ia lelah menghadapi semua ini. Tak seorang pun membantunya. Ia menatap ruang kosong di hadapannya.

*

“Ya ampun. Sejak kapan kau memotong rambutmu?” Yoon Cha memberikan sebuah bingkisan kecil untuk Yeon Hee dan dua sahabat lainnya. Yoon Cha baru saja pulang Afrika. Ia keturunan Korea-Afrika. Tak heran kalau ia berkulit coklat. Sedangkan dua sahabat Yeon Hee lainnya baru saja pulang dari Amerika karena mereka sekarang ditugaskan di sana. Mereka berdua ke sini untuk mengisi liburannya. Sekarang mereka berempat sedang berkumpul di rumah Min Kyeong.

Yeon Hee hanya menggelengkan. Ia berusaha tersenyum. Namun pandangannya kosong. “Hanya mau merubah suasana.” Yeon Hee tertawa kecil.

Seo Hae menepuk-nepuk punggung Yeon Hee pelan. “Ku dengar hari ini Hyung Joon kembali ke Seoul. Kau tidak menemuinya?”

Yeon Hee menggeleng. “Ia pasti capek. Biarkan dia beristirahat.” Yeon Hee menatap jam dinding. “Aku harus pulang sekarang. Bos ku meminta ku merevisi laporan bulan ini.” Yeon Hee mengambil tas jinjingnya di samping. “Aku duluan. Annyeong.”

“Joesong hamnida.” Yeon Hee tanpa sengaja menubruk seorang cowok di hadapannya. Yeon Hee berbohong soal ia harus merevisi laporannya. Ia sekarang sedang berada di Dongdaemun.

Cowok itu menatap Yeon Hee yang jalan menjauh. Ia mengejar Yeon Hee. “Yeon Hee!” Yeon Hee membalikkan badannya ketika cowok itu menarik tangan Yeon Hee. Tapi Yeon Hee tak menatap wajah cowok itu. Iya menatap jalan di belakang cowok itu. “Sedang apa kau di sini?”

Yeon Hee dengan ogah-ogahan menatap wajah cowok itu. Ia tersentak “Hyun Joong-sshi?” Yeon Hee menatap Hyun Joong, sang leader SS501, tak percaya. “Kau ke sini dengan siapa? Ngapain?”

Hyun Joong tak menjawab Yeon Hee. Ia hanya menatap potongan rambut Yeon Hee yang pendek. Setiap sudut rambut Yeon Hee diperhatikan. Hyun Joong menaikkan sebelas alisnya dan menarik Yeon Hee. “Hyung Joon!” Hyun Joong memanggil Hyung Joon di sebuah toko pernak-pernik. Hyun Joong melepaskan genggamannya dan mendorong Yeon Hee ke arah Hyung Joon.

Hyung Joon tersenyum senang ketika melihat Yeon Hee. Tapi senyumnya pudar ketika ia melihat potongan rambut Yeon Hee. Ia mendekati Yeon Hee yang terus-terusan menundukkan wajahnya. “Kenapa kau potong? Sayang sekali. Padahal rambutmu sangat bagus.” Ia membelai rambut Yeon Hee lembut.

Yeon Hee tak berani menatap Hyung Joon sekarang. Bahkan ia tak berani memanggilnya oppa. “A…” Yeon Hee memalingkan pandangannya. “Aku hanya ingin sedikit merubah gaya rambut ku. Biar sedikit segar.” Tersenyum simple sambil menunduk. Hyung Joon kesal melihat Yeon Hee terus menunduk. Ia mendongakkan wajahnya Yeon Hee dan menatapnya seolah tak percaya dengan omongan Yeon Hee. “Benar kok. Aku sedikit bosan saja dengan rambut panjang.” Yeon Hee memaksakan diri untuk tersenyum.

Hyung Joon tersenyum mempercayai Yeon Hee. Ia menggenggam tangan Yeon Hee erat dan menariknya untuk mengajak makan bersama. Tapi Yeon Hee menampik tangan Hyung Joon. Ia kembali menundukkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya “Aku harus pulang. Harus mengerjakan laporan bulan ini. Mianhae.” Yeon Hee membungkukkan badannya dan berlalu sambil mengusap air matanya.

*

“Hyung Joon-a.” Jung Min teriak memanggil Hyung Joon. “Lihat ini.” Jung Min menggeser kursinya agar Hyung Joon dapat melihat komputer yang sekarang sedang menampilkan berita seputar artis di internet. “Mungkin ini sebabnya Yeon Hee sekarang sedikit menghindarimu.”

Hyung Joon membaca perbaris perlahan. Ia membaca berulang kali artikel itu. Bahkan ia melihat foto seorang cewek yang ia kenal baik dengan rambut panjangnya sedang di kelilingi beberapa cewek yang memegang gunting terpampang jelas di artikel itu. “Yeon Hee bohong. Ia memotong rambutnya karena ini.” Hyung Joon menatap kesal layar komputer.

Kyu Jong, Yeong Saeng, dan Hyun Joong ikut bergabung begitu mendengar Hyung Joon mengumpat. “Pantas ia terlihat sedih ketika aku bertubrukkan dengannya.” Hyun Joong ikut bersuara di belakang Jung Min. keempat cowok itu menoleh dan menatap Hyun Joong heran. “Iya. Waktu kita ke Dongdaemun, tanpa sengaja ia menubruk ku. Saat itu wajahnya sedih sekali. Aku tak tahu.” Hyun Joong masih menatap komputer. “Tapi aku tak berani bertanya padanya.” Hyun Joong kembali duduk di kursi belakang mereka.

Hyung Joon menatap Hyun Joong dingin. “Jadi ini semua gara-gara aku?” Hyung Joon berjalan ke arah dinding di dekatnya dan menyandarkan dirinya di sana. “Aku salah! Aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Ia berusaha memberiku semangat dan selalu tertawa setiap aku telepon. Tapi sebenarnya ia kesepian. Ia menangis.” Hyung Joon menundukkan kepalanya. “Aku tidak di sisinya ketika ia memerlukanku.”

Yeong Saeng meninju dada Hyung Joon keras. Matanya yang tajam menatap Hyung Joon. “Kenapa kau berfikiran seperti itu!?” Yeong Saeng berusaha menyadarkan Hyung Joon yang gelap mata.

“Karena itu kenyataannya!” Hyung Joon balas berteriak. “Aku menyakitinya secara tidak langsung!” Hyung Joon meninju dinding di belakangnya. “Aku tidak pantas untuknya!” Hyung Joon menyambet jaket di kursi dan berlari ke bawah.

Hyung Joon menatap apartemen kecil di hadapannya. Tempat Yeon Hee tinggal. Hyung Joon menarik nafas. Ia memakirkan mobilnya di dalam gerbang. Hyung Joon melangkahkan kakinya gontai ke arah lift. Ia menekan tombol lantai 5 dengan pelan.

“Yeon Hee.” Hyung Joon menekan tombol bel di kamar Yeon Hee dan memanggil namanya dengan berat.

Tidak sampai dua menit pintu sudah terbuka. Yeon Hee kaget melihat Hyung Joon berdiri lemas di depan pintu. “Oppa?” Yeon Hee menarik tangan Hyung Joon ke dalam. Hyung Joon tak bergeming. Ia menundukkan kepalanya. “Masuklah. Tidak enak. Bagaimana kalau nanti ada fans mu yang melihat ini?”

Hyung Joon menahan Yeon Hee dan memegangi kedua tangan Yeon Hee. “Yeon Hee. Mianhae.” Hyung Joon membungkukkan badannya sambil memegangi kedua tangan Yeon Hee. “Aku sadar sudah membuatmu repot sampai seperti ini.” Yeo Hee menatap Hyung Joon heran. “Lebih baik kita pisah saja. Aku cuma ingin melihat kau bahagia. Bukan sedih seperti ini.” Hyung Joon melepaskan tangannya dan berlalu.

Yeon Hee tak percaya apa yang dikatakan Hyung Joon.“Oppa.”
“Oppa.”
“Oppa!”

Berulang kali Yeon Hee memanggil Hyung Joon. Tapi Hyung Joon tak mempedulikannya. “Oppa!!”

*

Hyung Joon menatap sekitarnya. Ia baru saja selesai konser di Seoul. Keempat personil lainnya sibuk dengan istirahatnya masing-masing. Mereka merasa bangga karena konser kali ini berlangsung dengan sukses seperti konser-konser sebelumnya.

Tiba-tiba, seorang cowok yang dikenal baik oleh Hyung Joon menerobos masuk. “Kenapa kau lakukan itu?!” Cowok itu tiba-tiba meninju pipi kanan Hyung Joon. “Kau tahu? Gara-gara kau memutuskan Yeon Hee, ia sampai tidak bisa tersenyum!” Suasana yang tadinya sedikit ramai, kini menjadi hening. “Kau tahu?! Sekarang ia benar-benar sendiri! Ketiga sahabatnya tidak dapat menghiburnya karena mereka sedang di luar negeri. Dia yang tadinya senang mendengar kau membali ke Seoul, sekarang kembali sedih karena kau lakukan hal itu!”

Orang-orang sekitar berusaha menenangkan cowok itu. Tapi Hyung Joon melarangnya. “Ku mohon kau jaga dia.” Pinta Hyung Joon. Tapi cowok itu menarik kaus Hyung Joon dan bersiap meninjunya lagi.

“Jae Ho?” Yeon Hee menatap sekelilingnya. Yeon Hee terpaku melihat tangan Jae Ho yang siap meninju Hyung Joon. Jae Ho langsung menurunkan tangannya. “Kenapa kau disini?” Yeon Hee berjalan menghampiri Hyung Joon. “Hyung Joon-sshi, aku datang cuma ingin mengembalikan ini.” Yeon Hee menyerahkan sebuah bingkisan yang cukup besar ke Hyung Joon. Ia membungkukkan badannya dan menarik paksa Jae Ho keluar ruangan.

Yeon Hee meletakkan sebuah baskom berisi air hangat di sebelah Jae Ho. “Lalu karena kesal kau meninju Hyung Joon?” tanya Yeon Hee sambil mengompres tangan kanan Jae Ho yang membengkak karena meninju Hyung Joon. Jae Ho hanya mengangguk malu sambil menatap ruangan Yeon Hee di apartemannya. Yeon Hee menatap sinis. Ia menekan handuk kecil yang digunakan untuk mengompres ke tangan Jae Ho karena kesal.

Tiba-tiba handphone Yeon Hee bergetar di sampingnya. “Yoon Cha! Kalian bertiga jahat! Dipindahkan di kantor yang sama! Sedangkan aku sendirian di Seoul!” Yeon Hee terus memaki tanpa membiarkan Yoon Cha berkata sedikit pun.

“Yeon Hee chagya, tunggu dong. Jangan ngomel terus.” Yoon Cha di seberang juga menutup kupingnya seperti Jae Ho. “Yeon Hee, tadi aku menelpon Hyung Joon. Katanya kau sudah…” Yeon Hee bangkit dan berjalan ke arah beranda. Ia tak ingin Jae Ho mendengar pembicaraan. “Oh. Duh Yeon Hee, jeongmal mianhae kami bertiga tidak peka dengan keadaanmu,” ujar Yoon Cha setelah mendengar cerita Yeon Hee panjang-lebar.

“Ah gwenchanayo. Kalian mau mendengarku saja, aku sudah merasa senang.” Yeon Hee berusaha untuk tegar dan tersenyum. “Hei ceritakan kejadian-kejadian di sana dong. Aku mau mendengar asiknya tinggal di Amerika.”

*

Jae Ho menatap punggung Yeon Hee. Mereka saat ini sedang berada di taman bermain. Sudah lama Jae Ho tidak melihat senyum Yeon Hee. Jae Ho sangat merindukan saat-saat ini. Sudah satu bulan sejak Hyung Joon memutuskan Yeon Hee. “Apa yang kau lamunkan?” tanya Yeon Hee ketika melihat Jae Ho terlihat tidak bersemangat. “Aku tahu biar kau semangat! Ayo kita naik rollercouster!” Yeon Hee menarik tangan Jae Ho dan memaksanya untuk menaiki wahana satu ini.

“Berikutnya…” Yeon Hee terlihat bersemangat sambil menatapi satu per satu wahana yang menantang.

Jae Ho menarik tangan Yeon Hee. “Yeon Hee… Kau tidak haus? Dari tadi kita bermain di wahana yang mengeluarkan suara. Apa kau tidak serak?” Yeon Hee menatap Jae Ho. Ia mengetes tenggorokannya yang mulai kering gara-gara keseringan berteriak. “Kau tunggu sini ya. Aku belikan minum.

Yeon Hee duduk di salah satu kursi di dekatnya. Ia menatap punggung Jae Ho yang mulai menjauh. “Ternyata Jae Ho benar-benar baik,” ujae Yeon Hee dalam hati. Tiba-tiba handphone Yeon Hee bergetar. Yeon Hee tertawa kecil. Sampai kapan ia akan men-silent handphone-nya? Ia harus mencari ringtone baru. Sebelumnya ia menggunakan lagu Song Calling for You untuk dijadikan ringtone. Tapi karena ia tak mau terlalu sedih kalau mengingat Hyung Joon, ia jadi menghapus lagu itu dan men-silent handphonenya.

Tiga pesan masuk sekaligus. Ketiganya dari sahabat-sahabatnya yang sedang sibuk walaupun hari Minggu. Maklum, mereka bertiga kerja di sebuah percetakan besar di Amerika. Isi ketiga pesan itu sama. Menanyakan kabarnya dan……

Yeon Hee menatap gerombolan orang beberapa meter dari hadapannya. Yeon Hee menyipitkan matanya untuk mengetahui apa yang terjadi hingga ada gerombolan. “Yeon Hee-a.” Jae Ho mengagetkan Yeon Hee yang diam menatap gerombolan itu. Jae Ho membukakan soft drink kesukaan Yeon Hee dan memberikannya. “Lihat apa kau?” ujarnya sambil meneguk soft drinknya dan duduk di sebelah Yeon Hee.

Yeon Hee tidak menjawab. Ia sibuk menghabiskan soft drinknya karena ia sudah kehausan. Yeon Hee menatap Jae Ho yang terus menatapnya karena Yeon Hee tidak menjawab pertanyaan Jae Ho. Yeon Hee menunjuk gerombolan tadi.

Jae Ho menatap tempat yang ditunjuk Yeon Hee. “Oh. Di sini memang sering dipakai untuk pemotretan artis. Mungkin saja itu artis yang sedang ada pemotretan.” Jae Ho mengambil kaleng kosong di tangan Yeon Hee dan membuangnya di tempat sampah di sebalahnya. “Tapi aku tidak tahu sekarang siapa yang ada di sana.”

Yeon Hee mengangguk dan kembali duduk tegak. “Yeon Hee-a.” Tiba-tiba Jae Ho mengecup bibir Yeon Hee. “Aku sampai sekarang masih mencintaimu. Apa aku tidak ada harapan tuk memilikimu?” Jae Ho memegangi kedua tangan Yeon Hee.

Yeon Hee menampik tangan Jae Ho. “Jae Ho. Makasih sudah memperhatikan ku. Tapi aku tidak bisa kalau bukan orang yang ku cintai.” Yeon Hee berdiri. “Aku pulang sendiri. Kau tak usah mengantarku.” Yeon Hee meninggalkan Jae Ho yang masih menatap Yeon Hee.

Jae Ho menyenderkan kepalanya. Ia menghelakan nafas kesal. Ini sudah kedua kalinya ia ditolak Yeon Hee. “Lagi-lagi Hyung Joon. Sampai kapan ia akan melihat Hyung Joon.” Jae Ho bergumam dalam hati.

Tiba-tiba ketika Jae Ho memejamkan matanya sejenak, seseorang menarik kaus Jae Ho dan meninju pipi kanannya. “Aku memang pernah meminta mu menjaga Yeon Hee. Tapi bukan memintamu menciumnya!” Orang itu menarik kaus Jae Ho yang jatuh berdeham di hadapannya. “Apalagi kau menciumnya di tengah keramaian seperti ini! Dasar cowok tidak punya otak! Kenapa kau menciumnya!?” Orang itu meninju Jae Ho di tempat yang sama.

Jae Ho bangkit dan menatap orang itu dengan tatapan benci. “Karena aku mencintainya!” Jae Ho menatap gusar orang di hadapannya. “Kau tahu? Kau membuat ku muak! Seenaknya kamu menyakiti cewek yang mencintaimu. Padahal kau tidak tahu seberapa ia mencintaimu!” Jae Ho balik meninjunya. “Ia selalu bercerita tentang kau dengan wajah sedihnya! Sampai kapan ia mau seperti itu!? Sampai kapan ia terus melihatmu!” Jae Ho memaksa orang yang terjatuh di hadapannya untuk bangun. Jae Ho menarik kerah orang itu.

Teman-teman orang itu berusaha memisahkan mereka. Jae Ho melepaskan tangannya dari kerah orang itu. “Hyung Joon-a. Kau tahu hari ini hari apa?” Jae Ho menatap Hyung Joon. Hyung Joon menarik kedua tangannya yang dipegang erat Kyu Jong dan Yeong Saeng. Hyung Joon menatap Jae Ho bingung. “Yeon Hee ulang tahun sekarang. Apa kau akan membiarkannya sendiri lagi?” Jae Ho merapikan jaketnya. “Justru kau yang cowok bodoh!”

*

Yeon Hee selesai menghias fruit cake di hadapannya. Ia tersenyum puas dengan hasilnya. Yeon Hee membalikkan badannya. Ia melihat dapur kecilnya berantakan. Yeon Hee tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Ia segera merapikan dapurnya. Ia kembali ke ruang tengah sambil membawa dua buah lilin yang berbentuk angka dua dan angka nol.

Yeon Hee menatap jam dinding kuning di sebelah kirinya. Sudah jam sembilan malam. Tiga jam lagi ulang tahunnya sudah lewat. Yeon Hee masih menggenggami lilin berbentuk angka dua. Ia memandangi fruit cake yang terdapat lilin angka nol di atasnya. Yeon Hee menghela nafas. Ia memasang lilin itu berdampingan dengan lilin berbentuk angka nol. Ia mencari korek di dapur dan menyalakan lilin itu.

Yeon Hee menatap lampu-lampu yang masih menyala di sekitarnya. Yeon Hee bangkit dan mematikannya. “Saengil Chukahamnida. Saengil chukahamnida. Saranghaneun dear Yeon Hee. Saengil chukahamnida.” Yeon Hee menyanyikan lagu ulang tahun untuk dirinya sendiri. Ia memejamkan matanya dan membuat satu permintaan. Yeon Hee meniup kedua lilin itu.

Yeon Hee menatap langit-langit yang gelap. “Ya ampun, aku ketiduran.” Yeon Hee meraih handphone di meja. Ia melihat jam yang tertera di handphonenya. Sudah jam setengah duabelas, pantas saja ia mengantuk. Tapi. Kenapa ada selimut di atas badan Yeon Hee? Yeon Hee memutar otaknya. “Ah mungkin aku lupa kalau tadi aku menyelimuti diriku.”

Yeon Hee menyibakkan selimutnya. Ia kembali terkejut melihat dua kotak berwarna-warni di atas mejanya dan sebuah buket bunga. Yeon Hee memang pelupa. Tapi ia ingat pasti kalau ia tidak membeli bunga maupun kedua kotak itu. Mata Yeon Hee menyapu ruangan yang gelap. Ia melihat siluet orang yang ia kenal sedang tidur di sofa sebelahnya. Yeon Hee bangkit. Ia menghampiri orang yang tidur di sofa sebelahnya. Yeon Hee menyentuh wajah orang itu. Ia merabanya. “Hyung Joon oppa.”

Tiba-tiba Hyung Joon memeluknya. “Yeon Hee mianmatta. Aku berbuat ceroboh. Aku tak ada di sampingmu saat kau memerlukanku. Aku tidak peka dengan keadaanmu. Aku tidak peka dengan perasaanmu.” Yeon Hee terdiam. “Kamu mau kan memaafkan ku dan menerima ku kembali?” Orang itu melepaskan pelukkannya dan menggenggam kedua tangan Yeon Hee. Yeon Hee tak dapat membendung air matanya lagi. “Hey kenapa kau menangis?” Hyung Joon berdiri dan mengelap air mata Yeon Hee dengan tangannya.

Yeon Hee tiba-tiba memeluk Hyung Joon kembali. Iya mengangguk. Hyung Joon tersenyum. Ia membelai lembut kepala Yeon Hee. “Yeon Hee, kenapa kau merayakannya sendirian?” Hyung Joon melepaskan pelukkan Yeon Hee dan duduk tepat di hadapan kue ulang tahun Yeon Hee. Ia menyalakan kembali lilinnya. Hyung Joon menggeser tempat duduknya dan membiarkan Yeon Hee duduk di sampingnya. Hyung Joon melihat jam tangannya. “Hah… Masih ada dua puluh menit lagi.” Ia berbisik pelan.

Hyung Joon meraih sebuah kotak yang agak besar dan menyuruh Yeon Hee membukanya. “Kau simpan itu,” ujarnya ketika Yeon Hee mengeluarkan dua buah mug bergambarkan cewek dan cowok. Kalau didekatkan, kedua gambar itu terlihat seperti sedang bergandengan tangan. Mug itulah yang sempat Yeon Hee kembalikan ketika mereka putus. “Ingat, kau simpan yang cowok. Aku simpan yang cewek. Araso?” Yeon Hee mengangguk senang.

Kali ini Hyung Joon meraih sebuah kotak kecil berwarna biru. Ia membukanya dan memperlihatkannya pada Yeon Hee. Ia menarik tangan kanan Yeon Hee dan memakaikan sebuah cincin emas putih di jari kelingkingnya. “Itu hadiahnya. Jangan sampai hilang ya.” Hyung Joon membelai lembut rambut Yeon Hee.

“Saengil Chukahamnida. Saengil chukahamnida. Saranghaneun dear Yeon Hee. Saengil chukahamnida.” Hyung Joon menyanyikan lagu ulang tahun untuk Yeon Hee. Yeon Hee tersenyum bahagia. Ia meniup kembali lilin-lilin itu. Hyung Joon mendekatkan wajahnya ke Yeon Hee. Yeon Hee jadi sedikit gugup. Tapi kemudian Yeon Hee memejamkan matanya.

***


2 Responses to “FanFic: The One”


  1. 31 October 2010 at 12:42 pm

    setelah memejamkan matanya apa yang terjadi???????????

  2. 2 tHi-cha
    4 August 2011 at 9:32 am

    Nie cerita beneran or bohongan sich??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

SS501

Kim Hyun Joong, Heo Young Saeng, Kim Kyu Jong, Park Jung Min, Kim Hyung Jun

Disinilah tempatnya Triple S, Mighty Max, & ELF, Kiss Me berkumpul. Aku harap kalian bisa enjoy dan aku juga mohon kesediaan kalian untuk tidak pelit dalam bercomment dan ngevote postingan yg menurut kalian bagus. Thanks

Pasang Banner Affiliate ini Juga yah diblogmu

Buat yang berminat jadi Author di blog ini silahkan mendaftarkan diri [DISINI]

Kalo mau curhat , comment hal2 yg gak penting, request, bashing-bashingan [Disini]

Jangan Lupa Buat Follow Aku Di Twitter

Add Me On Facebook

T-Max

Kim Joon, Shin Min Chul, Park Yun Hwa, Park HanBi, Joo Chanyang

U-Kiss

Alexander, SooHyun, KiBum, KiSeop, Eli, Kevin, DongHo

Top Rate

Categories

Visitor

  • 526,237 Visitor, Thanks For Coming

Tweeted

  • قال رسول الله صلى الله عليه و سلم:ما من امرئ يتوضأ فيحسن وضوءه ،ثم يصلي الصلاة إلا غفر له ما بينه و بين الصلاة الأخرى،حتى يصليها #نشر_سيرته 5 hours ago
  • قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تمنعوا إماء الله مساجد الله -- صحيح البخاري #Hadith #ﷺ 20 hours ago
  • وإذا أذقنا الناس رحمة فرحوا بها وإن تصبهم سيئة بما قدمت أيديهم إذا هم يقنَطون (36) -- سورة الروم #Quran 21 hours ago
  • ما زاد الله عبدا بعفو إلا عزّ #نشر_سيرته #عفو #ظلم twitpic.com/awc9b2 #ﷺ 23 hours ago
  • عن أبي هريرة قال أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاث صيام ثلاثة أيام من كل شهر وركعتي الضحى وأن أوتر قبل أن أنام - صحيح البخاري ﷺ 1 day ago

Max Triple Kiss Worlds


%d bloggers like this: